Home » , » Hubungan yang konsisten antara hakikat manusia dan hakikat pendidikan

Hubungan yang konsisten antara hakikat manusia dan hakikat pendidikan

Pendidikan berdasarkan hakikat menurut Ki Hajar Dewantara yakni “Pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin), pikiran dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya” (Sudarto, 2008). Dalam pernyataan tersebut dapat dipaparkan bahwa pendidikan mempunyai fungsi untuk memanusiakan manusia, bersifat normatif, serta membentuk karakter yang kokoh dari peserta didik. Maka hakikat pendidikan tidak akan lepas dari hakikat manusia, untuk lebih jelas akan dipaparkan pada contoh berikut :

a.    Manusia mahluk berpengalaman

Berbeda dengan mahluk lainnya, manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cipta, rasa dan karsa. Dengan ketiga potensi tersebut manusia selalu terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai-nilai kebenaran keindahan dan kebaikan yang terkandung didalam segala sesuatu yang ada. Ketiga jenis nilai tersebut selanjutnya dijadikan landasan dasar untuk mendirikan falsafah hidup, menentukan pedoman hidup dan mengatur sikap serta perilaku hidup agar senantiasa terarah ke pencapaian tujuan hidup, pada filsafah hidup tersebut mengandung pengertian yang bernilai universisal meliputi masalah-masalah tentang asal mula kehidupan, tujuan dan eksistensi kehidupan. Ketiganya terhubung melalui azas sebab-akibat. Maka perlu adanya pendidikan yang dapat membantu individu dalam mengembangkan dan menumbuhkan diri. Pendidikan tersebut akan senantiasa menciptakan situasi yang dapat membuat peserta didik dari dapat belajar atas dorongan sendiri dengan tingkat kesadarannya untuk mengembangkan bakat, pribadi dan potensi-potensi lainnya secara optimal keaarah yang lebih optimal.

b.    Manusia mahluk berpendidikan

Sejak lahir manusia sudah langsung terlibat didalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Manusia dirawat. Dijaga, dilatih dan dididik oleh orang tuanya, keluarga dan masyarakat menuju tingkat kedewasaan sampai kemudian terbentuk potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan kehidupannya. Dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran tersebut diselenggarakan mulai dari cara-cara yang alami menurut pengalaman hidup sampai pada cara-cara formal. Kemudian setelah taraf kedewasaan dicapai, manusia tetap melanjutkan kegiatan pendidikan dalam rangka kematangan diri. Jadi pada dasarnya, pendidikan merupakan persoalan yang lingkungannya seluas persoalan kehidupan manusia itu sendiri. Manusia dan pendidikan menjadi hubungan yang konsisiten, karena manusia maka pendidikan menjadi ada, dan kerena pendidikan pula maka manusia semakin menjadi diri sendiri sebagai manusia yang manusiawi.

Memahami manusia bukan pekerjaan yang mudah. Karena pemahaman manusia turut berkembang, maka pendidikan harus dinamis. Karena esensi dari pendidikan merupakan usaha untuk memajukan dan mengembangkan kecerdasan, kepribadian dan fisik peserta didik. Dengan demikian keberhasilan suatu proses pendidikan sangat tergantung pada sejauh mana dapat berkembangnya kecerdasan, kepribadian dan fisik tersebut dapat dicapai bersama-sama. Oleh karena itu, pendidikan berlangsung sepanjang hayat manusia, dimana proses tersebut harus ada pendidik yang dapat memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas dari peserta didik.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di BK Peduli Siswa

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BK Peduli Siswa - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
ans!!