Home » , » Persoalan Pendidikan

Persoalan Pendidikan

a.    Landasan filosofis pendidikan

1)    Analisis teoritis : Filsafat mempunyai kaitan cukup erat dengan pendidikan, karena pendidikan berusaha mewujudkan citra tentang manusia dan masyarakat sedangkan filsafat berusaha untuk merumuskan citra tentang manusia dan juga masyarakat. Pada hakiktnya berbagai masalah-masalah pendidikan merupakan persoalan filosofis, kerena dalam filosofi merupakan sebagai penerapan suatu analisis filosofis terhadap dunia pendidikan. Kita tidak memungkiri bahwa cita-cita dan kebijakan-kebijakan pendidikan atau tujuan dari pendidikan tanpa adanya pertimbangan yang matang mengenai persoalan-persoalan filosofis secara umum, penentuan arah kebijakan pendidikan. Maka perlu adanya kajian-kajian yang dilakukan oleh berbagai pihak tentang berbagai cabang filsafat yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap dunia pendidikan. Berbagai aliran-aliran filosofis cukup memberikan pengaruh pada dunia pendidikan di Indonesia yang pada dasarnya masih mengalami krisis filosofis kultur nasional. Filosofis nasional seharusnya dapat diangkat menjadi gambaran dan cita-cita tentang kehidupan manusia yang mendasari adat istiadat, norma, etika, nilai-nilai dan hukum yang berlaku di lingkungan masyarakat.

2)    Analisis Kritis : Meskipun tujuan pendidikan dapat digali dari filosofis, namun berbagai fenomena masih banyak hal yang perlu di sempurnakan terutama dalam hal pendidikan. Filosofis nasional belum mampu diimplementasikan dalam kegiatan-kegiatan masyarakat bersama pendidikan. Filosofis nasional tersebut yakni gotong royong, filsafah gotong royong dalam masyarakat Indonesia kian terkikis oleh filsafah-filsafah asing yang menggempur kebudayaan Negara yang mana filsafah asing tersebut terdapat beberapa kecenderungan untuk lebih mementingkan diri sendiri. Sikap bertanggungjawab yang merupakan salah satu produk dari filosofis juga semakin jarang dijumpai, seakan nilai tanggungjawab dan kejujuran sudah hilang di telan zaman.

3)    Analisis solusi : Pendidikan Indonesia perlu mengimplementasikan filsafat nasional/local yang sesuai dengan adat ketimuran yang mana itu merupakan cirri khas karakter bangsa Indonesia. Penerapan filsafat local tersebut akan memudahkan pembentukan ilmu dan karakter peserta didik. Maka peran pemerintah pusat dan pemerintah derah perlu diwujudkan, karena peran dominan di Indonesia masih menjadi wewenang Pemerintah dalam hal penerapan kebijaksanaan. Dengan adanya penerapan filosofis local diharapkan siswa akan menjadi lebih mandiri, bertanggungjawab, miliki ahlak mulia. Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan masyarakat juga menjadi solusi untuk implementasi landasan filosofis pendidikan, masyarakat menjadi salah satu narasumber pada kegiatan-kegiatan ekstra sekolah, sekolah juga menginstruksikan kepada siswa untuk ikut serta bergotongroyong bersama masyarakat sekitar dengan mengikuti kerja bakti membersihkan jalan sekitar kompleks sekolah dan lainnya.

b.    Landasan Psikologis Pendidikan

1)    Landasan teoritis : Landasan psikologis pendidikan mempelajari situasi pendidikan dengan focus utama interaksi pendidikan yaitu interaksi antara siswa dengan guru yang berlangsung dengan suatu lingkungan. Siswa mendapat tempat yang utama dalam interaksi ini. Seluruh kegiatan interaksi dalam pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu pengembangan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki setinggi-tingginya. Oleh karena itu, maka hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan dan kecakapan, dinamika perilaku serta kegiatan siswa terutama perilaku belajar merupakan hal yang dibahas dalam landasan psikologis pendidikan. Jadi, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan (Umar T, 2005). Oleh karena itu, kajian-kajian psikologis dapat dijadikan titik acuan dalam pelaksanaan pendidikan agar pelaksanaan pendidikan yang objeknya adalah manusia yang berbentuk fisik dan psikis kian tepat sasaran.

2)    Analisis kritis : Pemahaman peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Pelaksanaan pendidikan masih kurang memperhatikan aspek psikologis siswa dengan lebih mengunggulkan aspek kognitif, maka banyak dijumpai fenomena siswa yang berperilaku menyimpang seperti tawuran pelajar yang akhir-akhir ini kian marak. Kondisi tersebut terjadi karena masih dipisahkannya dimensi belajar, sosial dan perkembangan psikologis.

3)    Analisis solusi : Dalam pendidikan hendaknya menjadikan acuan dalam pengaplikasian antara pandangan pendidik dengan aspek pesikologis peserta didik. Dengan pengkondisian iklim belajar yang mencakup keadaan fisik, sosial, mental siswa, sikap dan kepribadian siswa. Dengan melakukan pendidikan yang lebih memperhatikan aspek psikologis siswa, diharapkan pendidik akan mampu membantu siswa yang dalam mencapai perkembaganan optimal. Kegiatan belajar bukan hanya menitik beratkan pada aspek kognitif saja, melainkan pembelajaran dengan menyenangkan melalui keterlibatan siswa di dalamnya serta pengkondisian aspek psikologis siswa akan menunjang keterlaksanaan tujuan pendidikan.

c.    Landasan Sosiologis Pendidikan

1)    Analisis teoritis : Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari sosiologis, diantara beberapa pendapat ahli yang menjelaskan sosiolohi yang terdapat dalam pendidikan diantaranya menurut Wuradji (1998) menjelaskan bahwa “Sosiologi pendidikan meliputi : (1) interaksi guru-siswa, (2) dinamika kelompok dikelas dan di organisasi intra-sekolah, (3) struktur dan fungsi system pendidikan, dan (4) system-sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan”. Keempat aspek tersebut dapat dijadikan landasan dalam memahami system pendidikan dalam kaitannya dengan kehidupan sosial manusia. Karena system pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pengaruh masyarakat dalam mewujudkan cita-cita nasional. Jadi peran nilai-nilai yang terdapat dalam sosiologis dapat dijadikan titik tolak dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

2)    Analisis kritis : Pendidikan Indonesia yang diwakili oleh lembaga-lembaga pendidikan kurang bisa melibatkan masyarakat dalam memerankan kebijakan pendidikan, yang masih tampak dominan dalam pendidikan Indonesia adalah nuansa politis yang mempunyai kepentingan golongan dengan mengabaikan tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Beberapa permasalahan lainnya yakni materi pembelajaran disekolah kurang menaruh perhatian terhadap kondisi lingkungan sekitar, dengan adanya otonomi daerah seharusnya pemerintah daerah bisa mewacanakan materi ekstra yang membahas kondisi sosial di wilayahnya. Kondisi sekarang nampak bahwa siswa lebih mengenal sosiologis amerika ketimbang nilai-nilai sosiologis Indonesia, kondisi tersebut kian memprihatinkan ketika siswa mulai hanyut dalam pergaulan sosial masyarakat luar negeri yang notabene menyimpang dari kebiasaan sosial masyarakat ketimuran yang menjunjung tinggi norma-norma sosial.

3)    Analisis solusi : Lembaga-lembaga pendidikan perlu meningkatkan peran sertanya  dalam pengaplikasian pembangunan di masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek sosial di sekitarnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan kerjasama antara masyarakat dengan sekolah yakni sekolah menoba mengimplementasikan aspek sosiologis dalam kegiatan belajar, dan masyarakat bisa mensosialisasikan proses sosial yang efektif kepada anak-anak mereka. Maka, peran guru menjadi lebih dominan kaena guru merupakan teladan bagi siswa serta dapat menciptakan suasana belajar yang berfokus pada dinamika kelompok agar siswa senantiasa menjadi insane yang fleksibel didalam  memainkan perannya sebagai anggota masyarakat.

d.    Landasan Historis Pendidikan

1)    Analisis teoritis : History merupakan keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan lain sebagainya. (Pidarta, 2007). Informasi-informasi tersebut merupakan warisan yang berharga yang dapat dijadikan titik tolak bagi perkembangan pendidikan saat ini. Dengan adanya historis ini seyogyanya dapat memberikan gambaran dan contoh bagi penyelenggara pendidikan untuk dapat mengembangkan pendidikan secara kreatif yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

2)    Analisis implementasi : Para era yang kompetitif ini, pendidikan kian menjadikan siswa sebagai bahan pengujian kurikulum. Dengan perubahan kurikulum yang cukup sering, pendidikan kian menekankan hasil daripada proses hal itu dapat dijumpai dengan semakin menonjolnya lembaga-lembaga bimbingan belajar yang berorientasi pada keberhasilan ujian Nasional. Berbagai fenomena perilaku siswa yang menyimpang seperti tawuran antar pelajar, pergaulan bebas bukan menjadi hal yang asing di wajah siswa Indonesia.  Padahal secara historis , bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun dan ramah. Selain itu fenomena siswa yang kurang memiliki sopan santun kepada orang yang lebih tua juga semakin mudah dijumpai. Kualitas pendidikan yang lebih menekankan kognitif serta mengabaikan moral menjadi salah satu penyebabnya. Pendidikan Indonesia saat ini seharusnya bisa berkaca terhadap sejarah pendidikan Indonesia pada pra kemerdekaan, meski dengan sarana dan prasarana yang kurang, tapi output nya adalah para siswa yang berhasil memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

3)    Analisis solusi : Untuk merealisasikan terwujudnya pengembangan peserta didik yang optimal, seperti yang dicita-citakan oleh lembaga pendidikan pertama di Indonesia yakni Budi Utomo. Maka perlu adanya program peningkatan kualitas guru dalam hal tanggungjawab dan kedisiplinan kerja maka guru harus belajar, kreatif serta memiliki inovasi karena guru bukanlah malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Pada saat bekerja, guru harus meluangkan waktu untuk belajar. Karena masih banyak dijumapi seorang guru yang sudah cukup puas dengan ilmu yang dimilikinya sehingga kurang dapat memahami peserta didiknya yang terus berkembang. Jika dahulu guru sebagai tokoh sentaral yang mentransfer ilmu kepada peserta didik, saat ini peserta didik yang diharapkan sebagai tokoh sentral dalam proses pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan tujuan pendidikan. Namun meski siswa sebagai tokoh sentral, peran guru tetaplah penting. Karena guru langsung bertatap muka dengan siswa, selain menyampaikan materi, guru juga diharapkaann mampu memberikan norma-norma agar terwujud peserta didik yang handal, bermoral dan bertakwa.

e.    Landasan Yuridis Pendidikan

1)    Analisis teoritis : Landasan yuridis pendidikan merupakan seperangkat peraturan yang menjadi acuan atau titik tolak dalam system pendidikan di Indonesia. Pancasila dijadikan dasar dalam penyelenggaraan system pendidikan nasional karena pancasila di anggap sebagai dasar Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat, oleh karena itu sebagai ideologi Negara atau seperangkat nilai-nilai yang mengatur tingkah laku bersama dalam bernegara yang terwujud dalam pemerintahan. Selain dari itu, juga terdapat Undang Undang Dasar Republik Indonesia, Ketetapan MPR, Undang Undang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri dan lainnya. Menurut UU No. 20 tahun 2003 sistem pendidikan Indonesia menganut konsep pendidikan sepanjang hayat. Sehingga pendidikan berlangsung tidak hanya disekolah-sekolah tetapi juga di keluarga dan masyarakat. Biaya pendidikan juga diatur dalam Amandemen UUD RI 1945 Pasal 31 ayat 2 menyebutkan bahwa biaya untuk pendidikan dasar menjadi tanggungjawab pemerintah, lebih lanjut pada pasal 31 ayat 4 bahwa Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya  20% dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.

2)    Analisis kritis : Menurut UUD RI 1945 pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu, apabila suatu hal seseorang atau kelompok masyarakat tidak bisa mendapatkan kesempatan belajar, maka mereka bisa menuntut haknya itu kepada pemerintah. Atas dasar itu maka pemerintah hendaknya menciptakan sekolah-sekolah yang bisa melayani kebutuhan warga Negaranya tanpa terkecuali apakah warga Negara tersebut normal atau tidak normal dilihat dari aspek fisik dan mentalnya, baik yang tinggal di pedesaan maupun diperkotaan,  baik mereka yang tidur di bawah plafon mewah maupun yang tidur di bawah jembatan laying. Walaupun dalam Amandemen UUD RI 1945 pasal 31 ayat 4 telah menegaskan tentang anggaran pendidikan, namun dengan berbagai alas an dan pertimbangan sampai saat ini APBN yang dialokasikan untuk pendidikan belum mencapai 20 %.

3)    Analisis solusi : Setelah mengkaji landasan yuridis dalam pendidikan yang telah dijabarkan dalam UUD 1945 dan beberapa peraturan perundang-undangan yang ada dibawahnya maka dapat dianalisis terkait dengan pelaksanaan pendidikan sebagai berikut : pemerintah perlu mengupayakan beragam jenis sekolah,  sekolah umum dan sekolah kejuruan, sekolah untuk siswa normal dan tidak normal, serta sekolah yang dapat menampung anak-anak jalanan. Dibutuhkan kurikulum dengan model sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan potensi dari peserta didik seutuhnya dengan memberikan perhatian yang sama terhadap pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor pada semua tingkat pendidikan. Dan yang tidak kalah urgens adalah pendidikan harus berakar pada kebudayaan nasional.

f.    Landasan Ekonomis Pendidikan

1)    Analisis teoritis : Fungsi ekonomis dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan hanya menjadi modal untuk dikembangkan, bukan pula untuk mendapatkan keuntungan. Dunia pendidikan adalah lembaga yang berkewajiban mengembangkan manusia, sudah tentu pendidikan itu tidak akan membawa peserta didik kearah yang membingungkan, menyusahkan dan menyengsarakan karena tuntutan besarnya biaya pendidikan. Menurut Nanang Fatah (dalam Mulyono, 2010) “pembiayaan pendidikan merupakan jumlah uang yang dihasilkan untuk berbagai keperluan penyelenggaraan  pendidikan yang mencakup gaji guru, peningkatan profesional guru, pengadaan sarana ruang belajar, perbaikan ruang, pengadaan alat-alat tulis kantor, kegiatan ekstrakurikuler dan supervise pendidikan. Maka tampak jelas bahwa ekonomi sebagai landasan dalam pendidikan yakni dalam prosesnya, pendidikan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi untuk mencapai tujuan dari pendidikan tersebut.

2)    Analisis kritis : Peranan ekonomi dalam dunia pendidikan cukup menentukan, tetapi bukan pemegang peranan utama, salah satu konsep pembiayaan tenaga pendidik di Indonesia adalah melalui sertifikasi guru, program sertifikasi guru selain untuk meningkatkan kualitas guru, juga mendongkrak gaji guru supaya dalam bekerja di lembaga pendidikan dapat berkonsentrasi penuh untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik tanpa memikirkan kerja sambilan karena kebutuhan hidup yang kurang terpenuhi akibat penghasilannya sedikit.

3)    Analisis Solusi : Penerapan program sertifikasi guru yang menjadikan guru lebih sejahtera. Hendaknya tidak memberatkan guru itu sendiri. Program sertifikasi harus di desai sedemikian rupa agar terdapat tingkatan yang jelas bagi guru-guru yang akan menempuh sertifikasi. Mayoritas guru di Negara Indonesia sudah mendekati usia tidak produktif, kemampuan beliau-beliau dalam mendidik tidak perlu diragukan akan tetapi faktor tenaga dan usia menjadi kendala terhadap pemaksimalan pelayananan mereka terhadap peserta didiknya. Maka sebaiknya pemerintah memberikan keringanan bagi guru-guru yang sudah lama mengabdikan diri bagi pendidikan tersebut. Keringanan itu berupa dipermudah dalam pengadaan sertifikasi bagi guru yang sudah memberikan pengabdian lama kepada pendidikan. Dan apabila perlu, pemerintah langsung memberikan reward kepada mereka dengan pemberian sertifikasi langsung, tanpa melalui prasyarat seperti guru-guru muda lainnya. Adapun untuk guru-guru muda maka pelaksanaan sertifikasi harus memenuhi kompetensi kelulusan dan perlu diperketat lagi. Agar tenaga pendididik yang tersertifikasi adalah mereka yang profesional dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Untuk kedepan, saya rasa perlu adanya evaluasi berkala bagi guru-guru PNS yang masih berusia muda, bagi mereka yang tidak lolos evaluasi akan mendapatkan sanksi pemotongan gaji hingga sanksi PHK. Apapun bagi guru yang evaluasinya baik akan diberikan kesempatan untuk mendapatkan kenaikan gaji. Akan tetapi, hal itu belum dapat terealisasikan dengan baik, apabila pendidikan belum dapat melepaskan diri dari kepentingan politik tertentu.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di BK Peduli Siswa

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BK Peduli Siswa - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
ans!!